Rabu, 10 Oktober 2018

IKPB Muda 2018 Ikuti Kegiatan Sosialisai Empat Pilar Bersama MPR RI


Yogyakarta - Minggu (7/10) Ikatan Keluarga Pelajar Belitong (IKPB) Muda 2018 Cabang Yogyakarta mengikuti kegiatan sosialisasi empat pilar berbangsa dan bernegara bersama MPR RI di Balai Desa Minomartani, Ngaglik, Sleman, DIY.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh sunshine community itu juga melakukan kegiatan donor darah yang berkerjasama dengan PMI Kota Yogyakarta. Para peserta diberikan materi empat pilar berbangsa dan bernegara oleh tiga orang narasumber yaitu Drs. Mohammad Toha selaku anggota DPR RI, kemudian H. Agus Sulistiyono S.E selaku anggota MPR RI perwakilan DIY dan yang terakhir oleh K.H Mustafid selaku Pimpinan Pondok Pesantren Aswaja Mlangi.

Ketiga narasumber memberikan materi tentang empat pilar berbangsa dan bernegara yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika. Dalam kegiatan tersebut H. Agus Sulistiyono juga menyampaikan permohonan maaf wakil ketua MPR RI Muhaimin Iskandar (cak imin) yang berhalangan hadir dalam kegiatan tersebut. Namun meskipun cak imin tidak hadir kegiatan tersebut tetap berlangsung dengan khitmad. Selain itu dalam sambutannya H. Agus Sulistiyono juga menyapa peserta perwakilan dari IKPB Jogja. "alhamdulillah kegiatan ini juga dihadiri oleh mahasiswa dari Belitung" Sambutnya.

Selain materi yang disampaikan narasumber para peserta juga disuguhi tarian dan kesenian nusantara yaitu tarian jawa yang dibawakan oleh sanggar Desa Minomartani dan kesenian khas Sulawesi Selatan yang dibawakan oleh Ikatan Mahasiswa Wajo. "Kami sangat antusias mengikuti kegiatan ini dapet tas sama sertifikat lagi" Tutur Risky salah satu peserta perwakilan dari IKPB Muda Yogyakarta.

Ketua PJS IKPB Cabang Yogyakarta Anugrah Agung Setiawan juga ikut hadir dalam kegiatan tersebut mendampingi peserta perwakilan IKPB yang diikuti oleh mahasiswa dan mahasiswi baru 2018 (IKPB Muda). "Tentunya kami sangat senang atas terselenggaranya kegiatan ini, kami mengucapkan terimakasih kepada pihak panitia yang sudah mengundang kami untuk hadir disini" Jelasnya.


Selain itu beliau juga menyampaikan bahwa kegiatan semacam ini akan lebih baik jika sering diadakan guna mengedukasi masyarakat dan mahasiswa sebagai warga negara. "Kami berharap kegiatan semacam ini sering dilakukan guna mengedukasi masyarakat dan mahasiswa tentang empat pilar berbangsa dan bernergara, sebagai mahasiswa wajib tahu karena mahasiswa adalah warga negara dan juga aden perubahan" Tuturnya.

Kegiatan yang berlangsung sejak pagi hingga sore hari tersebut tidak hanya diikuti oleh mahasiswa namun juga diikuti oleh masyarakat Desa Minomartani.

Rabu, 03 Oktober 2018

PENDAFTARAN CALON KETUA IKPB CABANG YOGYAKARTA MASA BAKTI 2018-2020 TELAH DIBUKA !




  A.    Pendahuluan
Sehubungan dengan akan berakhirnya masa kepengurusan IKPB Cabang Yogyakarta masa bakti 2016-2018 yang akan ditandai dengan pelaksanaan Laporan Pertanggungjawaban dan pemilihan ketua IKPB Cab. Yogyakarta. Untuk melanjutkan estafeta organisasi, IKPB Jogja membuka pendaftaran bagi mahasiwa-mahasiswa Belitong yang ada di Yogyakarta untuk mengabdikan diri menjadi Ketua IKPB Cabang Yogyakarta masa bakti 2018-2020 yang kemudian

Minggu, 01 Juli 2018

IKPB Jogja ! Tolak KIP Harus Libatkan Seluruh Stakeholder Yang Ada, Jangan Ada Yang Menjadi Silent Majority.


YOGYAKARTA - Ikatan Keluarga Pelajar Belitong (IKPB) Cabang Yogyakarta sebagai organisasi mahasiswa daerah bersama IKPB Cabang Se-Nusantara telah melakukan deklarasi penolakan terhadap Tambang Laut dan Kapal Isap Produksi (KIP) yang akan beroperasi di wilayah perairan Belitong.

Aksi penolakan tersebut dilakukan untuk menegaskan bahwa dari kalangan mahasiwa tidak setuju dengan masuknya tambang laut di dalam RZWP3K yang sedang dirancang oleh pemerintah kabupaten Belitung Timur dan provinsi kepulauan Bangka Belitung.

Pergerakan yang dilakukan mahasiwa murni atas kecintaan mereka kepada pulau Belitung. "Aksi yang kami lakukan atas dasar kecintaan terhadap Belitong" Ungkap PJS Ketua IKPB Jogja, Angga (23). Namun menurutnya pergerakan menolak Tambang laut dan kapal isap bukan hanya saja dari mahasiswa seharusnya melibatkan banyak pihak terutama masyarakat dan pemerintah. "Sebaiknya melibatkan seluruh stakeholder yang ada, terutama pemerintah dan masyarakat". Tuturnya.

Dalam pandangannya kalangan mahasiswa saja tidak cukup untuk melakukan penolakan karena mahasiswa hanya sebagaian kecil dari tatanan masyarakat yang ada. Serta perlu adanya semangat penolakan dari masyarakat karena dampak kurang baik dari tambang laut dan kapal isap akan dirasakan langsung oleh masyarakat terutama nelayan.

"Kami harapkan ada kesadaran masyarakat terhadap dampak kurang baik dari adanya kapal isap dan tambang laut" Jelasnya. Selain itu ia juga mengapresiasi langkah pemerintah yang tetap bertahan untuk menghapus tambang laut dari RZWP3K (Rencana Zonasi Wilayah Perairan dan Pulau-pulau Kecil) yang sedang dirancang.

"Kami juga mengapresiasi pemerintah kabupaten yang telah berjuang untuk mentiadakan tambang laut dari RZWP3K". Menurutnya langkah yang diambil pemerintah sudah tepat dan harus mendapatkan dukungan penuh dari masyarakat dan seluruh pihak yang ada. Ia itu juga mengisyaratkan jangan ada yang menjadi Silent Majority.

"Kalau bisa jangan ada yang menjadi silent manjority, Mahasiswa sudah angkat bicara pemerintah juga sudah, tinggal menunggu suara dari masyarakat terutama nelayan, semua pihak harus mengungkapkan jangan diam saja" Turur Angga. Disamping itu seluruh mahasiswa yang tergabung di dalam IKPB tetap akan menyuarakan penolakan terhadap tambang laut baik itu melalui diskusi, kajian, studi lanjut dan aksi seperti yang sudah pernah dilakukan.